Terjemahan Dhawuh Ki Wongsojono
Oleh : Budi Siswanto
Kita
dalam belajar Kaweruh Jendra harus siap, sebab hal-hal yang dulu dianggab gaib,
mistik dan rahasia sekarang sudah tidak dirahasiakan lagi. Siapapun orangnya
yang penting sudah dewasa secara iman dan fikiran maka berhak untuk mendapatkan
ajaran-ajaran yang dapat membangkitkan daya kesadaran diri yang lazim disebut
Guru Bathin atau Guru Sejati.
Daya
kesadaran diri ini begitu besar dan sudah ada dalam diri manusia sejak manusia
dilahirkan. Tapi mengapa tidak banyak orang yang dapat menggunakannya,
lebih-lebih dalam membuat keajaiban sampai sekarang ini? Jawabannya adalah,
benar Guru Sejati memang ada sejak manusia dilahirkan, akan tetapi kesadaran
akan keberadaanNya perlu dibangkitkan, yang dalam pengertian Kaweruh Jendra
disebut “dibuka”. Pelaksanaan “pembukaan” pada seseorang, akan dilakukan oleh
seorang guru lantaran atau guru pamencar kaweruh kasepuhan (Jawa : pinisepuh).
Dengan cara dibuka inilah seorang guru lantaran tidak perlu khawatir ilmu yang
akan di pencarkan jatuh pada tangan orang yang salah. Sebab dengan cara “dibuka”
inilah seorang guru berhak memilih atau menseleksi, siapa dan bagaimana
pribadi-pribadi orang yang akan menerima pembukaan ini, baik secara masal
maupun perorangan.
![]() |
Gbr. Pelaku Jendro yang akan bermeditasi |
Agar
seseorang dalam menjalankan kaweruh Jendra mengalami hal-hal yang ajaib dan
luar biasa, maka perlu adanya penyatuan
sejati dalam pernikahan sejati atau disebut “wejangan”. Pernikahan sejati tak
ubahnya seperti pernikahan biasa, yaitu pernikahan yang terjadi antara pria dan
wanita seperti pada umumnya. Perbedaanya ialah, jika pernikahan biasa
pengantinnya duduk berdampingan bagai seorang raja dan permaisuri, kalau
pernikahan sejati pengantinya tidak tampak memiliki pasangan, sebab pasangan/mempelainya
adalah Guru Sejatinya sendiri yang tak lain adalah Roh Sejati-Nya sendiri.
Ibarat
orang yang berumah tangga, setiap pasangan nikah akan bersetubuh, bersetubuh
disini bukan dalam artian biologis akan tetapi yang dimaksud dengan setubuh =
sebandan = manunggal = nyatu-tunggal = nyawiji = nyatu sawiji. Dalam
persetubuhan (Jawa : nyawiji) akan melahirkan buah-buah roh, buah-buah roh meliputi : Hidup
dalam keteraturan (berorganisasi), sabar dalam segala hal, rendah hati,
penyayang, pemaaf, lemah lembut, saling memelihara dll.
Bertumpuh
pada buah-buah roh yang terlahir dari dalam diri seseorang yang telah menerima ilmu
yang sangat dirahasiakan ini, akan menjamin orang tersebut sebagai orang yang
tepat untuk menerima ilmu rahasia Hermes atau ilmu rahasia Begawan Wisrawa.
Karena barang siapa yang melanggar janji wejangan (perkawinan) akan menerima
tulak atau sengsara semasa hidupnya, dengan jaminan inilah maka Kaweruh Jendra
Hayuningrat yang sebelumnya menjadi ilmu rahasia selama berabad-abad lamanya,
tetapi sekarang justru menjadi ilmu yang harus dimiliki oleh setiap orang yang
menginginkan dan mengalami “hidup dalam kemakmuran serta mati dalam
kesempurnaan”.
Nyawiji
atau manunggal adalah sebutan bagi seseorang yang sudah mencapai tingkat hening
dalam bermeditasi. Walau tetap dalam kesadaran penuh, seseorang yang sedang
nyawiji ditandai dengan bergetarnya salah satu anggota badan atau keseluruhan
dari anggota badan, namun demiklian raga tetap dapat dikendalikan. Orang yang
sedang nyawiji tidak akan pernah bisa menggerakan anggota badannya lagi secara
otot akan tetapi ada suatu kekuatan super yang menggerakan salah satu atau
keseluruhan anggota badannya, yaitu kekuatan atau daya kesadaran diri pribadi
yang lazim disebut sebagai “daya sang Guru Sejati”.
Penyatuan
sejati atau nyawiji sejati dalam kaweruh Jendra dilambangkan dengan bersatunya
dua segitiga, yang masing-masing merupakan simbul dari mempelai pria ( ▼ ) dan mempelai wanita ( ▲ ). Penyatuan itu akan
membentuk simbul baru seperti lambang bintang.
Berawal
dari simbol inilah setelah disempurnakan bentuknya, maka muncul-lah simbul
bintang berujung lima coba
perhatikan symbol ini, symbol bintang ini tidak ada kaitannya dengan bintang
yang ada diatas langit, bintang di langit tidak punya ujung-ujung. Simbol ini
adalah melambangkan manusia yang mencapai pencerahan beserta kesempurnaannya.
Perlu di ketahui, karena begitu dahsyatnya simbol ini, maka banyak orang
memakainya sebagai lambang bendera sebuah negara. Simbol ini sudah ada sejak
lama, namun maksud dan arti yang sebenarnya masih di rahasiakan oleh banyak
orang yang sudah mencapai penyawijian sejati. Tak heran jika symbol ini dipakai
dimana-mana, sebab symbol ini walau hanya ditulis atau di cap-kan, pemilik symbol
tersebut telah memperoleh energy khusus yang dapat mempengaruhi kehidupan orang
tersebut.
Daya
Guru
Sejati juga bisa di timbun pada suatu benda atau symbol-simbol yang
lain,
hasilnya benda atau symbol itu akan memiliki energy yang dapat
mempengaruhi
kehidupan orang sekitar atau kehidupan orang yang telah mentransferkan
daya
Guru Sejatinya.Demikianlah penjelasan sekilas tentang Kaweruh Jendro
Hayuuningrat, apabila ingin mendapatkan penjelasan lebih lengkap hubungi
sekretariat PURI ASIH Jln Panjahitan XII/49 Jember 68122
Rahayu!