Selasa, 07 Mei 2013

Bag 4. MENYIBAK TABIR SASTRA MANTRA

Berikut ini akan saya bahas tentang Sastra Mantra yang ditulis dengan huruf /  abjad dan angka yang selalu terdapat pada sebuah Sastra Mantra / azimat. Semua huruf-huruf memiliki nilai yang sama dengan angka dan mengandung persamaan dengan simbol-simbol.

Adapun dalam Kaweruh Jendra Hayuningrat, penulisan Sastra Mantra ( Sastra Tulis ) ditulis oleh penulisnya dalam kondisi / posisi nyawiji ( meditasi ). Jadi tulisan Sastra Mantra adalah tulisan Roh yang telah mendapat perkenan dari Allah SWA, untuk memberikan pertolongan pada orang yang memohon pertolongan-Nya, sedangkan Guru Lantaran yang melakukan penulisan, hanya bersifat sebagai mediasi.

Penulisan Sastra Mantra merupakan pengembangan nyawiji, yang semula berupa gerak sejati, wujud dari gerak sejati adalah berwujud getar sekujur tubuh yang terjadi pada setiap siswa Jendra yang sudah mendapatkan intuisi atau dibuka dengan metode Kaweruh Jendra Hayuningrat. Yang kemudian kemampuannya ditingkatkan menjadi Dhawuh Orhiba dan selanjutnya akan berkembang menjadi Dhawuh Cetha, yaitu Dhawuh atau gerakan lidah yang menyerupai suara manusia biasa dan bisa di mengerti maksud serta tujuan-Nya.

Seorang pelaku Jendra yang keilmuannya digunakan secara pribadi, biasanya sudah merasa cukup sampai di tingkat Dhawuh Cetha. Sebab dengan Dhawuh Cetha ini seorang pelaku Jendra bisa menangani semua perkara, baik yang menyangkut kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain, mencari sesuatu yang hilang atau dibawak orang lain, namun juga bisa membawa pulang orang yang pergi tanpa pamit bahkan bisa mendatangkan hal-hal ajaib dalam hidup para  pelakunya Kaweruh Jendra Hayuningrat

Berbeda dengan para pelaku Kaweruh Jendra yang melayani praktek konsultasi spiritual, mengingat semua masalah yang di tangani adalah menyangkut perkara orang lain, baik secara perorangan maupun secara masal.

Untuk memaksimalkan pelayanannya, seorang pelaku Jendra meningkatkan kemampuan Dhawuh-nya dengan jalan memindahkan getaran di lidah-nya menuju ke ujung tangan ( pena )-nya. Torehan di ujung tangan ( pena )-nya, awalnya berupa huruf-huruf orhiba yang bentuknya mirip dengan simbol-simbol, karena dilatih dan di kembangkan terus, maka simbol-simbol itu menjadi berwujud mirip huruf kanji (Huruf China / Jepang ) dan selanjutnya mirip dengan abjad Latin, Arab bahkan huruf Jawa.
 
Dalam penulisan Sastra Mantra / Rajah-rajah, para pelaku Kaweruh Jendra tentunya banyak belajar dan memperhatikan dari setiap hasil akhir setiap pekerjaannya, saat memeriksa hasil akhir, tentu ada yang berhasil maupun tidak berhasil. Memperhatikan hasil akhir setiap pekerjaan yang  berhasil maupun yang tidak berhasil, maka beberapa guru-guru lantaran Kaweruh Jendra Hayuningrat mencatat serentetan jadwal atau saat yang baik dalam penulisan Sastra Mantra / sikep  /azimat, seperti di bawah ini :

WAKTU YANG BAIK UNTUK MENULIS SASTRA MANTRA / RAJAH:

* MINGGU; Hampir tengah hari kira-kira jam 11 tengah hari
 
* SENIN; Pada malam hari selesai waktu maghrib hingga pagi
 
* SELASA; Antara jam 11 hingga 3 sore
 
* RABU; Pagi subuh jam 5 hingga 8
 
* KAMIS; Tengah hari jam 2 hingaa 3 malam
 
* JUMAT; Selesai waktu juhur jam 2 tengah hari
 
* SABTU; Pagi atau Sore jam 5 hingga 6



Sebelum beranjak dari halaman ini, saya sangat senang sekali jika Anda bersedia meluangkan sedikit waktu untuk memberi Like dan Share serta G+1 pada artikel ini, dengan demikian artikel ini juga dapat dibaca oleh sahabat, teman dan orang terdekat Anda serta orang yang membutuhkannya. 

Untuk menambah wawasan Anda dalam memahami agama-agama lain, kunjungi juga Kaweruh Transparan , sebuah blog yang memaparkan perjalanan spiritual agama-agama yang ada di muka bumi ini. Terimakasih atas kunjungan Anda dan salam sukses untuk Anda sekalian..... Rahayu..!