Terjemahan Dhawuh Ki Wongsojono
Oleh : Budi Siswanto
Salam Rahayu! Kaweruh
Jendra Hayuningrat yang selanjutnya disingkat menjadi kaweruh Jendra, adalah
ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun, baik dengan regenerasi
maupun dengan cara berguru pada guru lantaran atau pamencar kaweruh kasepuhan. Meditasi
dalam Kaweruh Jendra selalu diawali dengan menata nafas, bukan mengolah nafas, menahan
nafas atau menghembuskan nafas. Jadi nafas merupakan kunci dalam menjalani
meditasi yang diajarkan pada setiap siswa kaweruh Jendra.
Dengan
bermeditasi seseorang dapat berkomunikasi dengan Guru Sejatinya atau yang lazim
disebut Guru Bathin dan berkomunikasi dengan Guru Sejati akan menghasilkan pencerahan.
Pencerahan adalah suatu keadaan dimana seseorang akan mengalami keajaiban
dengan bangkitnya daya kesadaran diri.
Berabad-abad
yang lalu orang sudah mengenal Guru Sejati dengan ditandai bangkitnya daya
kesadaran diri, sehingga orang yang mengalami pencerahan mampu melakukan
keajaiban-keajaiban seperti menjadi filsuf, pelukis, composer, penemu-penemu
tehnologi, penyembuh dan penerawang masa yang akan datang dll.
 |
Simbol Sastra Jendra Hayuningrat |
Karena daya
kesadaran diri begitu besar dan kuat, maka tidak banyak orang yang berkenan untuk
mengajarkanya, jadi mereka lebih memilih merahasiakannya. Orang-orang
yang mengalami pencerahan menganggap, bahwa daya kesadaran diri ini sangat
membahayakan bagi orang yang belum siap secara mental dalam mempergunakannya,
mereka mengkawatirkan pengetahuan ini jatuh pada tangan orang yang salah. Disalah satu catatan sejarah barat, ada
seseorang yang telah mengalami pencerahan dan akhirnya menjadi penyembuh, dia
adalah Hermes. Hermes telah merahasiakan semua catatan-catatan pentingnya
selama dia melakukan pencarian daya gaib tersebut, walaupun dia berhasil dan
akhirnya menjadi seorang penyembuh dimasa itu. Karena begitu rapatnya Hermes
menutupi rahasia tersebut, maka munculah kata-kata “Hermetic” yang artinya
“tersimpan rapat-rapat”.
 |
Meditasi Dasar |
Begitu
pula halnya di tanah Jawa, mengenai Guru Sejati ini telah menjadi sesuatu hal
yang penting, sampai-sampai kerahasiaanya dijaga dalam bentuk ancaman terkena
tulak atau bendu ( ind. Dosa ),
mengenai cerita ini bisa kita baca di Kitab Arjuna Wiwaha Pupuh Sinom hal.26 “Sungguh
mengherankan, tidak seperti permintaan putri saya yang satu ini, yakni dia tak
perduli siapapun orangnya yang mau melamar, yang penting orang tersebut bisa
menjabarkan Sastra Jendra hayuningrat.”. Lalu jawab Prabu Donorejo : “padahal
ilmu Sastra Jendra hayuningrat itu sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang
dengan sengaja dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah.”Selanjutnya Prabu
Donorejo menyampaikan: “Sebab, tak seorangpun diperbolehkan mengucapkan dan memaparkan apalagi menjabarkannya, Jikalau hal
itu benar-benar di lakukan, maka orang tersebut akan mendapat bendhu, tulah atau laknat dari sang
Hyang Wenang, sekalipun dia seorang pinandita
yang sudah bertapa dan menyepi bertahun-tahun lamanya di gunung. Terkecuali
beliau adalah pinandita yang sudah ditunjuk oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah
sebagai pamencar. Baiklah, saya akan
coba menjelaskan dan berterus terang kepada ayahanda Prabu, tentang apa yang
menjadi permintaan putri paduka. Karena ayahanda prabu adalah seorang pinandita
yang memiliki ilmu Sastra Jendra Hayuningrat.” ( terjemahan kitab Arjuna Wiwaha : Pupuh Sinom pada halaman : 26 ). Rahayu!